Niat hati berbuat baik, apa daya tangan tak sampai.
Itulah pepatah yang cocok bagi diriku beberapa hari yang lalu.
Kronologis ceritanya seperti ini. Niatku ingin mengantar kepergian salah satu temanku, sebut saja Tata, pulang ke negeri Jiran untuk memulai perjalanan semester 3 yang baru ini. Kepulangannya yaitu jatuh pada hari Senin. Pesawatnya meluncur dari Kota Kembang pukul 06.10. Pagi bukan? Berarti apabila ingin mengantar kepergiannya, minimal aku dan teman-temanku harus sudah berada di airport sekitar pukul 05.00.
Aku tahu kalau pagi itu aku membawa mobil keluar garasi berarti larangan pergi mengantar akan muncul dari kedua orang tuaku. Aku berpikir memutar otak. Dan, akhirnya aku memiliki ide cemerlang. Aku memohon kepada temanku, sebut saja Lince, untuk menjemputku pagi buta. Aku tahu bahwa si Lince pasti membawa supir ketika matahari masih bersembunyi tersebut. Lince pun menyetujuinya dan akan menjemputku hari Senin pukul 04.30. Alarm dan alat komunikasi kuletakkan tepat di samping tempat tidurku. Aku sangat yakin akan terbangun karena aku cukup sensitif terhadap bunyi.
Akan tetapi.......
Pukul 04.00 pun lewat. Begitu pula dengan pukul 05.00. Sampai akhirnya aku terjaga dari mimpi sekitar pukul 09.00. Oh My GoD!!!!
Hal ini menandakan Tata telah sampai di negerinya. Aku TERLAMBAT! Aku langsung melihat handphone-ku. Benar saja, beberapa missed calls dan SMS menghiasi handphone-ku.
Ternyata, Lince telah mencoba membangunkanku. Namun, aku pun terus terbuai dalam mimpi. Rasa bersalah dan gelisah mulai menghiasi jantungku. Aku langsung menelepon dan meminta maaf pada Lince.
Namun, nada yang judes membuatku semakin takut. Tak ayal lagi, Lince benar-benar marah.
Aku pun meminta maaf padanya. Jala ditebar, ikan bersambut. Akhirnya, pada malam harinya Lince memaafkanku.
Begitulah akhir cerita menggenaskan ini...