Gengsi VS Minat

Publicado  Rabu, 25 Agustus 2010

Ibu (I): " Kamu harus kuliah di fakultas X yah. (Fakultas X merupakan salah satu fakultas berduit di kotanya)."
Budi (B): "Mam, aku kan ga suka fakultas X. Aku lebih suka di fakultas Y. Bakatku di sana mam."
I: "Bener nih, ga mau fakultas X? Kalo kamu tetep ngotot pengen kuliah di fakultas Y, ya udah kamu kuliah di luar negeri."
B: "Hah? Ngapain harus ke luar negeri? Kan di Indo jg udah ada universitas negeri yang ternama. Masuk sana aja udah bagus. Gmn?"
I: "Ga... Ngapain kuliah bagian Y di Indo? Sekarang sih kamu tinggal pilih kuliah di fakultas X di Indonesia ato fakultas yang kamu mau tapi di luar negeri."
B: "Ah....mam, aku males klo kuliah di luar negeri. Udahlah di universitas negeri di Indo aja. Lulusan pasti dicari."
I: "Ga.... Pokoknya denger kata mami. Kan mami yang bayarin kamu kuliah."
Akhirnya, demi menuruti bakat yang dimilikinya, Budi berkuliah keluar negeri.

Nah, dari tulisan di atas, apakah yang menarik untuk kita cermati? Apakah Budi telah mengambil keputusan salah untuk berkuliah di fakultas yang disenanginya namun tidak ternama? Ataukah mamanya yang terlalu ingin mendapat sebuah titel "dapat menyekolahkan anak keluar negeri" atau "membiayai kuliah termahal di negeri sendiri"?

Kasus di atas bukanlah kasus yang jarang ditemui di lingkungan sekitar kita. Seringkali, ortu memaksakan kehendak untuk menyekolahkan anaknya di bagian tertentu walaupun anaknya tersebut terkadang tidak mampu. Dapat disadari, bahwa ortu selalu memberikan jalan yang terbaik bagi anaknya. Namun, apadaya apabila anaknya tidak mampu atau tidak sesuai minat. Apakah ada kuliah yang telah menjanjikan pekerjaan yang layak bagi mahasiswanya walaupun bagian tersebut bergengsi? Tentu saja jawabannya TIDAK. Semua itu harus dijalaninya dengan tekun. Sebagai contohnya seorang tukang bubur saja dapat membeli mobil mewah. Luar biasa bukan? Apakah dia disekolahkan ke luar negeri? Tentu TIDAK. Ini merupakan the real life.

Oleh karena itu, lebih baik mempelajari apa yang disenangi dibandingkan mempelajari apa yang tidak disenangi. Segala sesuatu yang dikejar hanya demi sebuah gengsi akhirnya akan menjadi sia-sia. Bagi pembaca yang mungkin akan menjadi ortu ingatlah jangan semata mengejar gengsi, bakat anak sendiri menjadi terpendam. Bakat tidak akan berkilau apabila tidak diasah. Lebih baik, kuliah di tempat terkucil tapi sesuai bakat dibandingkan kuliah bergengsi tapi tidak sesuai bakat. Lebih baik lagi, kuliah di tempat bergengsi dan sesuai bakat.

Telat Bangun! Oh no...

Publicado  Selasa, 10 Agustus 2010

Niat hati berbuat baik, apa daya tangan tak sampai.
Itulah pepatah yang cocok bagi diriku beberapa hari yang lalu.

Kronologis ceritanya seperti ini. Niatku ingin mengantar kepergian salah satu temanku, sebut saja Tata, pulang ke negeri Jiran untuk memulai perjalanan semester 3 yang baru ini. Kepulangannya yaitu jatuh pada hari Senin. Pesawatnya meluncur dari Kota Kembang pukul 06.10. Pagi bukan? Berarti apabila ingin mengantar kepergiannya, minimal aku dan teman-temanku harus sudah berada di airport sekitar pukul 05.00. 
  
Aku tahu kalau pagi itu aku membawa mobil keluar garasi berarti larangan pergi mengantar akan muncul dari kedua orang tuaku. Aku berpikir memutar otak. Dan, akhirnya aku memiliki ide cemerlang. Aku memohon kepada temanku, sebut saja Lince, untuk menjemputku pagi buta. Aku tahu bahwa si Lince pasti membawa supir ketika matahari masih bersembunyi tersebut. Lince pun menyetujuinya dan akan menjemputku hari Senin pukul 04.30. Alarm dan alat komunikasi kuletakkan tepat di samping tempat tidurku. Aku sangat yakin akan terbangun karena aku cukup sensitif terhadap bunyi. 

Akan tetapi.......

Pukul 04.00 pun lewat. Begitu pula dengan pukul 05.00. Sampai akhirnya aku terjaga dari mimpi sekitar pukul 09.00. Oh My GoD!!!!
Hal ini menandakan Tata telah sampai di negerinya. Aku TERLAMBAT! Aku langsung melihat handphone-ku. Benar saja, beberapa missed calls dan SMS menghiasi handphone-ku.
Ternyata, Lince telah mencoba membangunkanku. Namun, aku pun terus terbuai dalam mimpi. Rasa bersalah dan gelisah mulai menghiasi jantungku. Aku langsung menelepon dan meminta maaf pada Lince.
Namun, nada yang judes membuatku semakin takut. Tak ayal lagi, Lince benar-benar marah.
Aku pun meminta maaf padanya. Jala ditebar, ikan bersambut. Akhirnya, pada malam harinya Lince memaafkanku.

Begitulah akhir cerita menggenaskan ini...

Ceria Bersama Ciater

Publicado  

Kembali lagi dengan bercerita! Cerita kali ini datangnya dari liburan terakhir bersama teman gw, sebut saja Ting2. Berhubung Ting2 akan kembali ke negeri asalnya untuk menjadi TKW dan menuntut ilmu, kami semua memutuskan untuk membuat memori indah bersamanya. Kita akan ke Ciater.

Hari sebelumnya yaitu Kamis, diumumkan untuk berkumpul di rumah Ting2 hari Jumat, 30 Juli 2010 pukul 14.00... Semua pun menyetujuinya.
Akan tetapi, negara Indonesia tidaklah luput dari jam karet. Disuruh kumpul jam 2 siang, orang terpagi saja datangnya jam 2.30 (sok tahu nih gw karena gw bukan datang pertama kali). Jamuan mushroom soup cukup membahagiakan kita semua. Selain itu, mushroom soup menandakan bahwa studi Ting2 di Negeri Jiran cukup bermanfaat. Alih-alih ingin mengetes kemampuan Ting2, sebenarnya kita semua memang menginginkan mushroom soup GRATIS. Hahaha. Sayangnya, mushroom soup tidak menyurutkan niat kita untuk pergi ke Ciater. Akan tetapi, salah seorang teman kita, sebut saja Oneng baru datang pukul 16.30. Luar biasa bukan? Untungnya, kita semua telah memahami kebiasaan "istimewa" teman kita satu ini.

Tanpa berbasa basi lagi, perjalanan pun dimulai. Perjalanan pertama menuju Waterleaf Greenforest. Apakah yang akan kita lakukan? Tentu saja FOTO. Walaupun foto yang dihasilkan cukup sedikit, foto ini cukup menghiasi koleksi foto di Facebook. Berbagai gaya pun diatur. Selain itu, tripod baru Oneng membuat kita mampu bergaya tanpa menyusahkan orang lain. Terima kasih Oneng! Karena dirasa jumlah foto belum sebanding dengan jauhnya jarak yang ditempuh, kita semua mampir ke Kampung Daun. Tentu saja, tidak membeli apa-apa kecuali pemandangan. Mungkin, kalau gw yang punya Kampung Daun, gw membuat tarif berfoto di lokasi. Sayangnya, sang empunya sungguh berbaik hati.

Kampung Daun di Senja
Kiri Bang!

Perjalanan panjang diterjang karena kita berjalan ke arah yang salah. TERSESAT. Untungnya, kita semua menyadari itu sebelum perjalanan tersesat kita terlalu jauh. Karena perut sudah berteriak kelaparan, kita akhirnya mengisi perut di Brebes. Luar biasa nikmat! Murah pula...

Seusai mengisi perut, perjalanan ke Ciater pun dimulai lagi. Akhirnya, kita semua sampai di sana. Karena salah satu teman kita, katakan saja Budi, membawa member, harga tiket masuk pun menjadi super terjangkau. Apa yang istimewa di Ciater? Tentu saja FOTO menghiasi waktu berendam kita di sana. Selain itu, kita mengenang kembali masa-masa SMA yang begitu menyenangkan. Kita juga membayangkan arisan yang diadakan diantara teman-teman main.
Ciater Tersenyum

Sepulang dari berendam, kami menyempatkan diri makan mie Tasik di Jalan Gardujati padahal waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Makan di tengah malam. Setelah itu, barulah satu persatu pulang ke rumah masing-masing dan menyongsong hari esok.

Dari perjalanan ini, gw menyadari bahwa waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Kehidupan semakin berlika-liku. Akankah kita terus bercanda layaknya hari ini? Apakah persahabatan yang telah dirajut semenjak masa SMP akan terus berlanjut? Beberapa tahun ke depan, mungkin kita semua akan lulus kuliah, mulai meniti karier bahkan menerjang sebuah rumah tangga. Gw berharap persahabatan kita terus berjalan.
Best Friend Forever!

Am I Going Crazy?

Publicado  Rabu, 04 Agustus 2010

Hai teman-teman!
Untuk kalian yang lagi super sibuk, lebih baik tulisan ini dilewat karena hanya membuang waktu kalian. Untuk kalian yang sedang mempersiapkan exam, lebih baik belajar untuk exam daripada membaca untaian kata ini. Untuk kalian yang lebih ingin menambah pengetahuan, lebih baik baca tulisan saya di kolom Ilmiah. It will be more essensial for u. Nah, kalau kalian semua ternyata sedang mengisi waktu luang, barulah lanjutkan membaca tulisan ini.

Next...

Sebelumnya, lihat dulu cuplikan SMS saya(R) dengan salah seorang teman saya(X).
X: "R,add gw donk!" (add BB maksudnya)
R: "X, please dgn sangat hormat untuk bersabar. Gw pasti add lu yah. Malah dengan lu ga hubungan ma org2 Indo bikin lu bakal lebih betah di sono."
X: "Hah? Knp? Ko bs? Ko lu yakin bgt? Pasti lu udh melakukan penelitian ttg isu ini kan?"
R: "Yakin X. Kebenarannya 95%. Penelitian gw pake metode case control terhadap sampel 167 org teracak di seluruh dunia. Hasilnya 99% setuju dengan statement gw. PUAS?????"
X: "Wow. Trs knp bisa kaya gt ya? Wow wow wow. Di sini ada 12 murid UI Inter yang exchange ke ***."
R: "Itu berdasarkan riset. Alasannya adalah komunikasi membuat mereka terus menerus mengingat memori indah jadi ga betah deh. Eh, btw lu knal dunk ma anak UI Inter? Hehehe"
X:"Hmmmmm.. Bagus donk, dengan mengingat memori indah jadi manusia tuh bisa makin bersemangat menghadapi kenyataan yg sebenarnya. Misalnya nih kalo lg bete trs inget memori indah kan bs jadi seneng. Gimana sih risetnya???!!! Hahahahaha. Kenal sih, cm ga ada kelas yg sama soalnya mereka udh taun ketiga gitu. ***"
R:"Nanti coba gw riset kembali...Oh... ***. Da yang namanya Isaac bukan? Hehehe"
X: "****. IYA2!!! Ko lu tw sih!!! Isaac Newton itu kan? Kenal dr mana lu???"
R: "Tau dari buku Fisika kls 2 SMA ttg gaya bab 4. Karangan B*b Fost*r. ***"

Itulah secuil percakapan singkat melalui udara dengan teman saya. Setiap kali saya membaca ulang SMS ini, saya berpikir AM I GOING CRAZY? Siapakah yang salah dengan percakapan kami? Pengirim pertama atau pembalasnya? Apakah Anda sebagai pembaca menganggap SMS saya tidak normal? Maksudnya, tidak jelas, tidak penting, tidak bermutu, buang-buang pulsa saja? Biarlah semuanya Anda yang menentukan. Anda yang memilih, Anda yang menentukan.

Lika-Liku di Fakultas Kedokteran

Publicado  Senin, 02 Agustus 2010


Tanggal 4 April 2009, pukul 00.00 WIB merupakan salah satu hari bersejarah bagi hidupku. Why? Karena hari ini adalah hari pengumuman SIMAK UI yang notabene aku menginginkan masuk FKUI bagaikan punduk merindukan bulan. Rasa deg-degan bercampur ketakutan mengalahkan rasa kantukku dalam membuka Web Penerimaan. Bahkan, Pra-UAN keesokaan harinya terelakkan karena perasaan ini. 
Dan, hasilnya.....
SELAMAT ANDA DITERIMA DI UNIVERSITAS INDONESIA!

Rasa bangga menghiasi hatiku selama beberapa minggu setelahnya. Diterima di universitas nomer 1 gitu lho!

Awal Masuk.. Hidup Jakun!

Akhirnya, masa-masa memasuki jenjang universitas kian mendekat. Saat ini, rasa itu mulai sedikit berubah menjadi rasa takut. Takut apa? Takut tidak diterima oleh lingkungan sekitar, takut pelajaran semakin sulit, dan banyak lainnya.

Bulan-bulan pun berlalu. Aku menghabiskan banyak waktu untuk menggapai secercah cita-cita di universitas ini. PSAF, mabim, PDOKM, PMDO dan berbagai acara lainnya kulewati dengan mulus. Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, rasa banggaku akan fakultas ini mulai memudar, mengapa?  Ternyata, di fakultas terbaik ini pula seringkali dijumpai hal-hal teknis yang seharusnya dapat dihindari. Misalnya saja dosen me-reschedule jadwal seenak perut mereka, dosen datang terlambat, bahkan aula tempat menuntut ilmu pernah digenangi air karena hujan. Luar biasa bukan?

Selain itu, gila popularitas, gila nilai, gila kekuasaan, gila idealisme, gila caper, gila games sampai gila beneran mewarnai pribadi yang ada di FKUI. Untuk yang terakhir belum kutemukan. Hahaha. Sikut menyikut terasa begitu kental. Ketika seseorang mengatakan bahwa belum belajar ketika H-1 ujian, itu semua adalah BOHONG! Menurutku, tidak ada orang cerdas di dunia kedokteran. Yang ada adalah SUPER RAJIN, RAJIN, CUKUP RAJIN, AGAK MALAS. Kata malas pun terlihat samar-samar di FKUI. Bahkan, gila keuntungan pribadi pun dapat dijumpai di fakultas ini. Mungkin, manusia di fakultas ini dapat bersaing dengan manusia fakultas Ekonomi dalam mencari keuntungan pribadi. Mendapatkan keuntungan belasan juta dalam sehari, hebat bukan? Insan beragam mewarnai hari perkuliahanku di FKUI.

Mabim AMSA

Seringkali, aku merasa kesal dengan orang-orang di sekitarku. Mulailah aku membanding-bandingkan mereka dengan teman SMA-ku. Tetapi, apakah hal ini mengubah sesuatu dari diri mereka? Tentu saja tidak. Terlebih, ini dapat membuatku jauh terjatuh dalam ruang STRES. Pelajaran yang begitu berat, tugas yang selalu menumpuk, ujian di depan mata seringkali membuatku stres. Apakah aku akan menghilang dari dunia ini? Of course NOT!!!!

Untungnya, di fakultas ini, aku memiliki cukup banyak idola yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Mereka menjadi pedoman sekaligus perisai hidupku. Insan yang begitu beragam membuka kelopak mataku untuk melihat sedikit ke dunia luar. Selain itu, mengahdapi mereka bagikan menaklukkan soal-soal ujian. Hal ini membuatku bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Akankah aku mengangkat sumpah 4 tahun ke depan? Akankah aku menjadi panutan di desa-desa terpelosok di Indonesia? Akankah aku melabuhkan hatiku di universitas ini? Tunggu saja, cerita selanjutnya.
Do It with DUIT!