Ibu (I): " Kamu harus kuliah di fakultas X yah. (Fakultas X merupakan salah satu fakultas berduit di kotanya)."
Budi (B): "Mam, aku kan ga suka fakultas X. Aku lebih suka di fakultas Y. Bakatku di sana mam."
I: "Bener nih, ga mau fakultas X? Kalo kamu tetep ngotot pengen kuliah di fakultas Y, ya udah kamu kuliah di luar negeri."
B: "Hah? Ngapain harus ke luar negeri? Kan di Indo jg udah ada universitas negeri yang ternama. Masuk sana aja udah bagus. Gmn?"
I: "Ga... Ngapain kuliah bagian Y di Indo? Sekarang sih kamu tinggal pilih kuliah di fakultas X di Indonesia ato fakultas yang kamu mau tapi di luar negeri."
B: "Ah....mam, aku males klo kuliah di luar negeri. Udahlah di universitas negeri di Indo aja. Lulusan pasti dicari."
I: "Ga.... Pokoknya denger kata mami. Kan mami yang bayarin kamu kuliah."
Akhirnya, demi menuruti bakat yang dimilikinya, Budi berkuliah keluar negeri.
Nah, dari tulisan di atas, apakah yang menarik untuk kita cermati? Apakah Budi telah mengambil keputusan salah untuk berkuliah di fakultas yang disenanginya namun tidak ternama? Ataukah mamanya yang terlalu ingin mendapat sebuah titel "dapat menyekolahkan anak keluar negeri" atau "membiayai kuliah termahal di negeri sendiri"?
Kasus di atas bukanlah kasus yang jarang ditemui di lingkungan sekitar kita. Seringkali, ortu memaksakan kehendak untuk menyekolahkan anaknya di bagian tertentu walaupun anaknya tersebut terkadang tidak mampu. Dapat disadari, bahwa ortu selalu memberikan jalan yang terbaik bagi anaknya. Namun, apadaya apabila anaknya tidak mampu atau tidak sesuai minat. Apakah ada kuliah yang telah menjanjikan pekerjaan yang layak bagi mahasiswanya walaupun bagian tersebut bergengsi? Tentu saja jawabannya TIDAK. Semua itu harus dijalaninya dengan tekun. Sebagai contohnya seorang tukang bubur saja dapat membeli mobil mewah. Luar biasa bukan? Apakah dia disekolahkan ke luar negeri? Tentu TIDAK. Ini merupakan the real life.
Oleh karena itu, lebih baik mempelajari apa yang disenangi dibandingkan mempelajari apa yang tidak disenangi. Segala sesuatu yang dikejar hanya demi sebuah gengsi akhirnya akan menjadi sia-sia. Bagi pembaca yang mungkin akan menjadi ortu ingatlah jangan semata mengejar gengsi, bakat anak sendiri menjadi terpendam. Bakat tidak akan berkilau apabila tidak diasah. Lebih baik, kuliah di tempat terkucil tapi sesuai bakat dibandingkan kuliah bergengsi tapi tidak sesuai bakat. Lebih baik lagi, kuliah di tempat bergengsi dan sesuai bakat.
Gengsi VS Minat
Publicado Rabu, 25 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar