Datang Pasien Glaukoma, Jangan Panik!

Publicado  Rabu, 21 Juli 2010

Seorang perawat hendaknya memiliki kemampuan dalam menangani pasien glaukoma, mengapa? Di Amerika Serikat, terdapat 2 juta orang yang menderita glaukoma. Setengah diantaranya mengalami gangguan penglihatan dan sedikitnya 70.000 penderita mengalami buta total. Setiap tahun prevalensi pasien glaukoma terus meningkat tajam. Sementara itu, glaukoma menempati posisi tiga besar penyebab kebutaan di Indonesia.


Glaukoma adalah keadaan di mana tekanan bola mata tidak normal atau biasanya lebih tinggi yang berujung pada kerusakan saraf penglihatan dan kebutaan. Secara umum, glaukoma dapat dibagi menjadi glaukoma primer, glaukoma sekunder, glaukoma kongenital, dan glaukoma absolut. Sekitar 90-95% penderita glaukoma terkena glaukoma sudut terbuka primer. Biasanya, tidak terdapat gejala awal pada para penderita glaukoma jenis ini.


Apa yang perlu dilakukan seorang perawat? Terdapat 3 petunjuk yang dapat dilakukan pada penderita yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, serta implementasi. Pertama, seorang perawat perlu mengidentifikasi riwayat atau faktor resiko yang dialami oleh penderita. Misalnya terdapat keluarga yang positif terkena glaukoma, adanya tumor mata, hemoragi intraokuler, inflamasi intraokuler, dan kontusio mata. Kemudian, perawat dapat melakukan pemeriksaan fisik. Biasanya, penderita glaukoma sudut terbuka primer mengalami kehilangan penglihatan perifer secara lambat. Sementara itu, penderita sudut tertutup primer mengalami nyeri berat pada mata, keluhan sinar halo, sklera kemerahan, serta penurunan penglihatan.


Seorang perawat dapat melakukan beberapa diagnosa yang mengarah pada glaukoma. Misalnya gangguan persepsi sensori yang ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif. Adanya nyeri yang disebabkan oleh peningkatan TIO. Selain itu, penderita glaukoma sering mengalami gangguan citra tubuh, ketidakmampuan perawatan diri sampai dengan isolasi sosial. Hal ini disebabkan oleh gangguan penglihatan. Sayangnya, seringkali penderita kurang mengetahui bahwa dirinya menderita glaukoma. Alasannya adalah kurangnya informasi tentang penyakit mata yang mengancam ini.


Pada penderita glaukoma dengan keluhan gangguan persepsi sensori, perawat perlu memastikan derajat atau tipe penglihatan. Kemudian, perawat harus berusaha agar pasien berterus terang mengenai kehilangan penglihatannya. Tunjukkan cara pemberian obat tetes mata seperti jadwal, dosis, dan jumlah tetesan. Kemudian, biarkan pasien mengulangi prosedur di atas. Perawat harus memberitahukan efek samping dari pengobatan. Selain itu, diskusikan pertimbangan diet dan makanan berserat. Tentunya, penderita perlu dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Anggota keluarga lain yang dicurigai menderita glaukoma perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur.


Sementara itu, pada pasien dengan gejalan mual dan muntah karena peningkatan TIO, perawat perlu melihat intensitas dan lokasi nyeri. Hal ini diperlukan untuk menentukan dosis analgesik. Setelah itu, penderita dianjurkan beristirahat dalam ruangan yang tenang dengan posisi senyaman mungkin. Perawat perlu memberikan hal-hal menyenangkan pada pasien untuk menghindari mual dan muntah. Demikianlah, penyajian singkat yang dapat dilakukan seorang perawat dalam mengangani penderita glaukoma.

0 komentar: