Penderita Sindrom Klinefelter, Wanita atau Laki-laki?

Publicado  Rabu, 21 Juli 2010

Belum lama ini, tepatnya sekitar bulan Mei 2010, terdapat kasus yang kontroversial di bidang medis. Kasus tersebut adalah kasus Alterina Hofan, seorang kelahiran Papua yang mengalami sindrom Klinefelter. Mengapa kasus ini menjadi begitu gempar padahal penderita sindrom Klinefelter di Indonesia bagaikan fenomena gunung es? Berdasarkan penuturan dr. Boyke Dian Nugraha, rasio penderita sindrom Klinefelter di dunia adalah 1:800.000. Sedangkan, di Indonesia rasio tersebut meningkat pesat hingga 1:100.000. Jadi, di Indonesia terdapat sedikitnya 2.000 orang penderita sindrom Klinefelter dengan asumsi penduduk 200 juta jiwa. Kondisi seperti ini diperparah oleh tingkat polusi udara yang tinggi, kebakaran hutan, asap rokok, dan lainnya.


Sindrom Klinefelter merupakan kelainan genetik pada laki-laki yang diakibatkan oleh penambahan kromosom X. Laki-laki normal akan memiliki kromosom XY. Sementara itu, pada penderita sindrom Klinefelter, kromosomnya menjadi XXY. Gejala sindrom Klinefelter bergantung pada banyaknya sel XXY yang dimiliki oleh penderita, banyaknya hormon testosteron, serta umur penderita ketika didiagnosis. Biasanya, kelainan kromosom pada sindrom ini akan memengaruhi beberapa perkembangan seperti fisik, bahasa, dan sosial. Kelainan fisik secara nyata terlihat dari adanya payudara dan testis yang bersifat aspermatogenesis. Sedangkan, keterlambatan perkembangan bicara dan sulitnya memproses informasi visual maupun auditori menjadi masalah bagi penderita. Perbedaan fisik membuat penderita menjadi rendah diri dan bersifat menutup diri.


Pada kasus di atas, Alterina dituntut dengan tuduhan memalsukan identitas. Padahal, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian forensik, dirinya ditetapkan sebagai laki-laki dengan kelebihan kromosom X. Sementara itu, pemeriksaan DNA menunjukkan bahwa Alterina adalah seorang wanita. Tentu saja, kedua hal ini bertentangan satu sama lain. Apakah seseorang dikatakan sebagai seorang wanita apabila memiliki barr body pada kromosom X? Apakah seseorang akan dikatakan laki-laki apabila memiliki kromosom Y? Dengan demikian, kasus Alterina tergolong yang mana?


Setiap orang memilih untuk tidak dilahirkan daripada memiliki identitas kelamin yang tidak jelas. Namun, segala sesuatu dikehendaki oleh Sang Pencipta, semuanya akan terjadi. Sebenarnya, kasus Alterina ini bukanlah sebuah tuduhan penipuan jenis kelamin. Hal ini disebabkan oleh istri Alterina, Jane, mengetahui bahwa suaminya menderita sindrom Klinefelter. Lagipula, Jane dapat menerima Alterina apa adanya. Selain itu, Hak Asasi Manusia (HAM) membebaskan setiap orang untuk menentukan hidupnya sendiri. Operasi pengangkatan payudara Alterina juga merupakan hak yang tidak dapat ditentang oleh siapapun.


Dengan latar belakang keluarga terpandang, keluarga Jane akan malu dengan kondisi pernikahan Jane. Pernikahan dengan penderita sindrom Klinefelter merupakan aib bagi keluarganya. Selain itu, pernikahan tersebut tidak akan memberikan keturunan, mengapa? Hal ini disebabkan oleh penderita sindrom Klinefelter memiliki sperma yang steril. Di lain sisi, keluarga Jane menganut kepercayaan bahwa pernikahan sesama jenis itu dosa. Oleh karena itu, keluarga Jane menolak keras hubungan mereka.


Sebenarnya, orang yang terpukul atas mencuatnya kasus ini adalah Jane. Aib keluarganya terbongkar ke masyarakat umum. Walaupun dirinya dapat menerima Alterina apa adanya, belum tentu teman-temannya dapat menerima kondisi seperti demikian. Bisa jadi, Jane akan dijauhi oleh mereka. Selain itu, pemberitaan yang begitu heboh memperlihatkan bahwa hubungan Jane dengan kedua orang tuanya tidak harmonis. Di satu sisi, Jane memihak pada Alter, namun dirinya tidak ingin menjadi anak durhaka.


Sementara itu, dapat dilihat sebenarnya orang yang sangat terpukul tentu saja Alterina. Mengapa demikian? Alterina akan sulit diterima di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang seringkali hanya melihat dari sisi kekurangan seseorang. Seperti contohnya ia akan lebih sulit mendapat pekerjaan dengan kelamin “abu-abu”. Selain itu, dirinya harus dapat menahan mental terhadap cemoohan dari orang-orang sekitarnya. Salah siapakah ini?


Sebagai calon dokter dan dokter di Indonesia, ada baiknya merenungkan kasus ini. Siapakah yang dapat disalahkan dalam kasus seperti ini? Apakah Alterina merupakan seorang wanita atau laki-laki tulen? Mengapa terdapat perbedaan pernyataan antara tes DNA dan hasil dari bagian forensik? Tes manakah yang diakui? Apakah penderita sindrom Klinefelter dianggap sebagai sampah di Indonesia sehingga tidak ada perlindungan hukum bagi mereka? Diantara masyarakat Indonesia, pastinya ada yang mendukung keluarga Jane dengan berbagai alasan. Namun, tidak sedikit orang menaruh simpati pada Alterina. Biarlah kasus kontroversial ini dijawab oleh hati nurani masing-masing pribadi.

0 komentar: